Thursday, 2 April 2015

KISAH DETIK DETIK ROSULULLOH MENGHADAPI SAKAROTUL MAUT



Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku." Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba."Rasulullah akan meninggalkan kita semua,"keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya didunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ! ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"

"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: “Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka."Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.
"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya serta kembali kepada-Nya sebab tidak ada sesuatupun yang dapat melindungi kita dari Maut. Adalah lebih baik jika kita segera kembali dan bersujud kepada-Nya, Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka

DAHSYATNYA BERSEDEKAH



Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah? Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam.
Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?"Allah menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).
Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?"Allah yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?"Allah yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).
"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikta.
Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada, yaitu angin" (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).
Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."

Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsure pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.Apalagi kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas? Pada suatu hari datang kepada seorang ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita mengenai sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis antar kota beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di kurs-kursi di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua orang yang selamat, bahkan tidak terluka sedikit pun. Mereka itu, ya kedua akhwat itulah. Keduanya mengisahkan kejadian tersebut dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur.Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat tidak kurang suatu apa? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafazkan zikir.Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah sebagian dari fadhilah (keutamaan) bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka.Allah Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap gerak-gerik kita tercermin amalan yang dilarang-Nya, toh Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira.Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh ke-ikhlas-an semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.Dari pengalaman kongkrit kedua akhwat ataupun kutipan hadits seperti diuraikan di atas, dengan penuh kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya.Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah. Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui," demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261).Seruan Rasulullah itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, "Ya, Rasulullah. Harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah.""Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan," jawab Rasulullah.Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. "Ya, Rasulullah. Saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya," ujarnya.

Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.Mengapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan Rasulullah tersebut? Ini tiada lain karena yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya.

Medan perang adalah medan pertaruhan antara hidup dan mati. Kendati begitu para sahabat tidak ada yang mendambakan mati syahid di medan perang, karena mereka yakin apapun yang terjadi pasti akan sangat menguntungkan mereka. Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu na’im telah siap menanti para hamba Allah yang selalu siap berjihad fii sabilillaah. Sedangkan andaikata selamat dapat kembali kepada keluarga pun, pastilah dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!
Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah? Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Allah sendiri membuat perbandingan, sebagaimana tersurat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, seperti yang dikemukakan di awal tulisan ini.
























KISAH BATU “BERTUAH”



Wahab bin Munabbih berkata, “Suatu saat Nabi Isa as melakukan perjalanan. Dia ditemani oleh seorang Yahudi. Dalam perjalanan tersebut mereka roti sebanyak tiga buah. Dua buah dibawa oleh si Yahudi sedangkan satu roti dibawa oleh Nabi Isa. Nabi Isa berkata orang Yahudi, ‘Kita makan saja sekarang. Roti yang dibawa olehmu keluarkan untuk kita makan ‘Si Yahudi berkata, ‘Boleh!’ ketika si Yahudi ini mengetahui bahwa Nabi Isa membawa satu roti dan dia membawa dua, ia merasa ada ganjalan.
“sebelum acara makan dimulai, Nabi Isa melakukan shalat terlebih dahulu. Sedangkan kawannya itu pergi ke tempat agak jauh dari Isa yang sedang shalat. Di tempat tersebut si Yahudi ini memakan satu roti. Ketika Isa sudah selesai melakukan shalat, si Yahudi mengeluarkan makanan yang dibawanya. Isa bertanya kepada si Yahudi, ‘Mana roti yang satunya lagi?’ Si Yahudi berkata, ‘Roti yang mana? Nggak ada lagi kecuali yang satu roti ini!’ Maka Isa pun mengeluarkan roti yang dibawanya dan menyantapnya begitu juga kawannya si Yahudi tersebut. Ia menyantap roti yang tinggal satu itu. Setelah selesai makan keduanya berangkat untuk meneruskan perjalanan. Mereka berdua sampai ke sebuah pohon. Isa berkata, ‘Bagaimana kalau kita menginap di bawah pohon ini sampai pagi?’ Si Yahudi berkata, ‘Boleh!’
“Keduanya tidur di bawah pohon tersebut. Ketika waktu pagi tiba, mereka berangkat untuk meneruskan perjalanannya. Di tengah perjalanan mereka mereka bertemu dengan orang buta. Isa berkata kepada orang buta tersebut, ‘Bagaimana kalau saya mengobatimu supaya Allah SWT mengembalikan lagi penglihatanmu apakah engkau mau bersyukur kepada-Nya?’ Orang buta menjawab, ‘Ya, saya akan bersyukur.’ Isa mengusap mata orang buta ini dan berdoa kepada Allah sehingga ia dapat melihat. Isa berkata kepada si Yahudi itu, ‘Demi Dzat yang telah memperlihatkan kepadamu bagaimana orang buta menjadi melihat, di kemanakan roti itu?’ Si Yahudi berkata, ‘Demi Tuhan, roti itu hanya satu. ‘Isa terdiam dan tidak berkomentar.
“Selanjutnya keduanya meneruskan perjalanan. Tiba-tiba mereka melihat sekelompok rusa yang sedang merumput. Isa memanggil seekor rusa lalu menyembelihnya. Setelah itu Isa mengambil sebagian dagingnya lalu dibakar. Setelah matang, mereka berdua memakannya. Selesai makan panggang daging rusa, Isa berkata kepada sisa daging rusa, ‘Dengan izin Allah, berdirilah engkau!’ Maka rusa yang telah disembelih tersebut bangun dan pergi. Si Yahudi sangat kaget sehingga ia berkata, ‘Ya Tuhan, aneh sekali!’ Isa berkata, ‘Demi Dzat yang telah memperlihatkan suatu tanda kebesaran ini kepadamu, siapa yang memakan roti yang ketiga?’ Si Yahudi berkata, ‘Saya hanya memakan satu roti.’
“Keduanya melanjutkan perjalan hingga sampai ke sebuah sungai besar yang sangat deras airnya. Isa memegang tangan si Yahudi lalu mereka berjalan di atas air hingga dapat melewatinya. Si Yahudi berkata, ‘Ya Tuhan aneh sekali!’ Isa berkata, ‘Demi Dzat yang telah memperlihatkan tanda kebesaran ini kepadamu, siapa yang memakan roti yang satu itu?’ Si Yahudi berkata, ‘Saya hanya makan satu roti.’
“Kemudian keduanya terus berjalan hingga sampai ke sebuah tempat kosong yang tak berpenghuni. Tidak jauh dari keduanya ada tiga buah batu emas. Isa berkata, ‘Nah, itu ada tiga batu emas. Satu untukku, satu lagi untukmu, dan yang satu untuk orang yang makan roti itu. ‘tanpa sadar si Yahudi berkata, ‘saya yang memakan roti itu. Saya memakannya ketika engkau sedang shalat!’ Isa berkata, ‘Ya, sudahlah, tiga emas itu untukmu. Silahkan ambil!’
‘Isa pergi meninggalkan si Yahudi. Si Yahudi ini berdiam di dekat tiga emas tadi. Ia kebingungan untuk membawanya. Sebab, ia tidak membawa alat untuk mengangkutnya. Tiba-tiba ada tiga orang lewat ke dekat si Yahudi itu. Ketiga orang tersebut merampas tiga emas tadi dan membunuh kawan Isa yang Yahudi itu. Dua orang dari ketiga orang tersebut berkata kepada kawannya yang satu, ‘Kamu pergi ke kampung dan cari makanan untuk kita!’
“Setelah orang itu pergi, dua orang tersebut membuat kesepakatan. Salah satunya berkata, ‘Jika dia kembali, kita bunuh saja. Emas ini kita bagi dua. ‘Kawannya berkata, ‘Setuju sekali.’ Sementara itu orang yang disuruh pergi membeli makanan berkata di dalam hatinya, “Saya akan taruh racun di makanan supaya mereka berdua mati. Sayalah yang akan menjadi pemilik tiga emas itu.’
“Setelah selesai membeli makanan, orang ini segera menaruh racun ke dalamnya. Sesampainya di tempatnya lagi, ia dibunuh oleh dua orang kawannya. Lalu keduanya menyantap makanan yang telah diberi racun itu. Akhirnya, kedua orang tersebut pun mati di samping emas tadi. Selang beberapa lama Nabi Isa melihat tiga mayat yang terkujur di dekat emas itu, ia berkata kepada para pengikutnya (hawariyyin), “Seperti itulah dunia memperlakukan pemujanya. Hati-hatilah kalian terhadapnya!”

Keramat Seorang Wanita



Syeikh Sariy Saqaty r.a adalah seorang alim dan ulamak yang abrar. Murid-muridnya terdiri daripada pelbagai kaum yang datang dari merata pelusuk. Salah seorang daripada muridnya adalah seorang wanita yang solihah, jujur dan sentiasa taat dan patuh kepada perintah Allah.  Wanita ini mempunyai seorang anak yang bernama Muhammad. Anaknya telah diserahkan kepada seorang guru untuk mempelajari ilmu-ilmu agama dan mengaji Al-Quraan.
Pada suatu hari guru agama ini pergi ke tepi sungai Dajlah bersama-sama anak wanita tadi untuk megambil angin sambil bersiar-siar.  Ketika guru itu duduk sambil berehat,  anak wanita tadi bermain-main di tebing sungai dan tidak di sedari bahawa anak itu telah terun ke dalam sungai itu. Setelah di sedari oleh guru itu dan belum sempat guru itu untuk menarik anak itu ke darat, tiba-tiba anak itu tenggelam ke dalam sungai. Dengan perasaan cemas guru itu mencari-cari anak itu tetapi tidak berjumpa. Setelah puas mencari guru itu tidak dapat berbuat apa-apa dan beliau berfikir mungkin anak itu telah mati dan di bawa arus. Guru tersebut merasa kesal di atas perbuatannya kerana mengajak anak tersebut bersiar di tepi sungai. Fikirannya buntu tidak dapat memikirkan bagaimana untuk memeberi tahu emaknya tentang kehilangan anak tersebut, dia takut dimarahi oleh wanita itu di atas kecuaiannya.  Dengan perasaan yang tidak menentu itu, tiba-tiba ia teringat tentang syeikh Sariy seorang ulamak tempat ibunya mengaji, mungkin syeikh tersebut boleh membantu menyelesaikan masalah ini.  Tanpa membuang masa guru itu terus kerumah Syeikh Sariy untuk memohon bantuannya menyelasaikan masalah kehilangan anak kepada wanita, muridnya. Setibanya di sana Guru itu menceritakan kepada Syeikh Sariy tentang kehilangan anak kepada wanita itu, dia memohon supaya mencari jalan bagaimana untuk memberi tahu ibunya tentang kehilangan anaknya.  Syeikh Sariy mengajak kawannya Al-Junid yang kebetulan berada disitu untuk pergi ke rumah wanita itu dan sama-sama membantu supaya wanita itu tidak mengamuk atau memaki hamun guru itu diatas kecuaian yang menyebabkan anaknya tenggelam di dalam sungai. Apabila tiba di rumahnya Syeikh Sariy dan Al-Junid mengajarnya tentang kesabaran yang perlu dihadapi kerana ia adalah dugaan Allah, jika sesuatu musibah yang menimpanya ia adalah takdir Allah semata-mata. Wanita itu kehairanan tentang tingkah laku Syeikh Sariy dan kawannya Al Junid. Wanita itu berkata kepada Syeikh Sariy "Apakah sebenarnya yang berlaku? sehingga tuan-tuan menceritakan tentang perkara yang telah saya ketahui".  Syeikh Sariy berterus terang dan menceritakan tentang kehilangan anaknya yang telah tenggelam ke dalam sungai semasa anaknya bermain-main bersama-sama gurunya di tebing sungai Dajlah. Mendengar keterangan tersebut wanita itu berkata dengan perasanan tenang "Insya Allah, Tuhan tidak akan membuat sedemikian kepada aku". Wanita itu mengajak mereka supaya menunjukkan tempat kehilangan anaknya.  Mereka menuju ke tebing sungai dan apabila sampai di sana guru itu menunjukkan tempat anaknya tenggelam.  Kata wanita itu "Apakah kamu pasti bahawa anakku hilang di sini" Jawab guru itu "Benar di sinilah dia tenggelam dan saya tidak sempat untuk mememegang tangannya ketika ia tenggelam". Lalu wanita itu menyeru nama anaknya "Hai anakku Muhamammad" beberapa kali, tidak lama kemudian anaknya menjawab "Ibu, Saya ada disini". wanita itu terus turun kedalam sungai lalu menghulurkan tangannya ke dalam air dan menarik keluar anaknya. Syeikh Sariy, Aljunid dan Gurunya hanya terpegun melihat keajaipan yang berlaku di hadapan matanya. Syeikh Sariy berkata "jika kita memberi tahu kepada orang, tentu mereka tidak percaya". Jawab Aljunid "Benar kata tuan, keajaipan tidak diperolehi oleh semua orang, kecuali mereka yang benar-benar takwa dan patuh kepada Allah , maka Allah akan mengurniakan kelebihan kepada mereka". Wanita tadi memelok anaknya dangan penuh kegembiraan. Mereka terus beredar dari situ untuk pulang kerumahnya dan tinggallah Syeikh Sariy, Aljunid dan Guru di situ. mereka berbincang- bincang tentang keramat yang diberikan Allah kepada wanita itu. Syeikh Sariy berkata "Wanita itu telah mendapat alamat bahawa anaknya masih hidup semasa ia berkata bahawa Allah tidak akan membuat sedemikian kepadanya" Mereka bertiga pun beredar dari situ dengan membawa kenangan yang tidak dapat di lupakan dan mereka bersyukur kepada Allah diatas kebesaran dan kekuasaanNya dan  segala yang berlaku diatas muka bumi ini adalah di atas ketentuanNya.
 


Habuk Kayu Bertukar Menjadi Tepung Gandum



Kisah ini diceritakan sendiri oleh Atha' bin Al-Azraq. Pada suatu hari isteri Atha' menyuruhnya pergi ke pasar untuk membeli gandum kerana gandum di rumahnya telah kehabisan. Isterinya memberi wang sebanyak 2 dirham. Atha' mengambil karung guni dan berjalan menuju ke pasar. Di dalam perjalanan dia ternampak seorang hamba sahaya sedang menangis. Orang ramai yang lalu lalang di situ tidak memperdulikan akan hamba tersebut. Oleh kerana kasihan melihat keadaan hamba tersebut Atha' menghampiri hamba yang sedang menangis lalu bertanya "Kenapakah kamu menangis ditepi jalan ini?". Hamba itu memberitahu "Aku diberi wang sebanyak 2 dirham oleh tuanku supaya membeli barang keperluan di pasar", sambungnya lagi "Apabila tiba di sini aku dapati wangku sudah tidak." hamba tadi sambil menangis lebih kuat lagi dan berkata "Mungkin wang itu tercicir semasa dalam perjalanan ke mari".
Atha' menanya lagi "Kenapa kamu tidak pulang saja dan memberitahu tuanmu tentang kehilangan wang tersebut?." Sambil menangis hamba tadi menjawab "Jika aku pulang dan memberitahu tentang kehilangan tersebut, tentulah aku dimarahi dan dipukul dengan teruknya". Atha' merasa hiba diatas penjelasan hamba itu lalu berkata "Ambil wang ini dan belilah barang-barang yang di pesan oleh tuanmu". Hamba tadi mengambil wang itu dan mengucapkan terima kasih kepada Atha' dan beredar dari situ menuju ke pasar untuk membeli barang-barang yang di pesan oleh tuanya.
Setelah hamba tadi beredar dari situ Atha' berkata dalam hatinya "Bagaimanakah aku hendak membeli gandum yang di pesan oleh isteriku sedangkan wang 2 dirham telahku berikan kepada hamba tadi". "Dari mana aku hendak mencari wang sebanyak itu" sambungnya lagi. Untuk menenangkan fikirannya Atha' menuju ke sebuah masjid yang berhampiran untuk menunaikan solat sunat. Atha' berada di dalam masjid agak lama, sehingga ia sempat bersolat Asar di situ sambil berdoa supaya Allah memberikan sesuatu rezeki kepadanya.
Setelah selesai solat Asar, Atha' menuju ke rumah kawannya kerana ia takut dimarahi oleh isterinya kerana pulang tanpa membawa gandum yang di pesanya. Pada mulanya Atha' ingin menceritakan dan meminta bantuan daripada kawannya tetapi apabila tiba dirumah kawanya, ia tidak tergamak untuk memberitahu hajatnya. Apabila kawannya melihat Atha' membawa karung kosong, lalu kawanya bertanya " Apa tu, karung kosong?" jawab Atha' "Ya" "Kalau begitu isilah habuk kayu ini dan bawalah pulang untuk di jadikan bahan bakar" kata kawannya. Atha' tanpa bacakap apa-apa mengisi karung guni dengan habuk kayu yang diberikan oleh kawannya dan terus pulang ke rumahnya.
Apabila tiba dirumahnya Atha' meletakkan guni yang berisi habuk kayu tadi di rumahnya dan beredar dari situ dengan senyap-senyap kerana takut isterinya meleter di sebabkan karung tersebut di isi dengan habuk kayu. Atha' menuju ke masjid, lama juga ia berada di sana sehingga hampir larut malam barulah dia pulang. Sesampainya di rumah dia tercium bau harum roti yang sedang dibakar. Atha' kemudiannya masuk ke dapur dan melihat isterinya sedang membakar roti lalu berkata "Harumnya baru roti ini" jawab isterinya "Memanglan kerana gandum ini dari kualiti yang baik". Atha' bertanya lagi "Dari mana kamu dapat tepungnya" "Dari mana lagi, dari karung yang awak bawa baliklah" jawab isterinya. Atha' kehairanan lalu berkata di dalam hatinya "Dari mana datangnya gandum itu sedangkan karung tadi berisi dengan habuk kayu, ajaib sungguh!". Atha' bertanya kepada isterinya "Mana karungnya biar aku lihat?" Isterinya menghulurkan karung tadi dan dilihatnya "Memang benar, karung tadi yang berisi habuk kayu telah bertukar menjadi gandum yang berkualiti baik" kata Atha' di dalam hatinya.. Atha' hanya mampu memandang sahaja sedangkan dia sendiri tidak tahu dari mana datangnya gandum tersebut. Begitulah jika kita berserah dan kembali kepada qudrat dan iradat Allah tidak ada yang mustahil.